MELIHAT LEBIH JERNIH DI TENGAH RIUHNYA OPINI TENTANG VASKO RUSEIMY

PenaHarian.com
9 Jun 2026 13:07
OPINI 0
8 menit membaca

Oleh: Darlinsah

Dalam dunia politik modern, serangan terhadap seorang pemimpin tidak selalu diarahkan pada kebijakan atau program yang dijalankannya. Ketika ruang untuk menyerang capaian kerja semakin sempit, perhatian publik sering dialihkan ke hal-hal yang lebih mudah memancing emosi. Yang diperdebatkan bukan lagi substansi, melainkan persepsi.

Fenomena seperti inilah yang belakangan terlihat dalam berbagai polemik yang menyeret nama Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy. Beragam isu bermunculan silih berganti. Sebagian dibangun dari fakta yang dipotong-potong, sebagian lagi berkembang melalui asumsi yang terus diulang hingga terdengar seperti kebenaran.

Padahal, jika tujuan utama adalah mencari gambaran yang utuh, maka ada pertanyaan mendasar yang perlu dijawab terlebih dahulu: apakah perhatian yang begitu besar terhadap berbagai isu tersebut sebanding dengan perhatian terhadap kerja dan kontribusi yang telah dilakukan?

Sebagai pejabat publik, Vasko tentu tidak kebal terhadap kritik. Tidak ada satu pun pemimpin yang berada di atas pengawasan masyarakat. Namun kritik yang sehat semestinya memberikan ruang yang sama antara mengoreksi kekurangan dan mengakui hal-hal yang telah dikerjakan.

Selama mendampingi kepemimpinan Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, salah satu peran yang cukup menonjol dari Vasko adalah kemampuannya membangun komunikasi dengan berbagai pihak di tingkat nasional. Dalam kondisi keuangan daerah yang terbatas, kemampuan membuka akses dan memperjuangkan dukungan pemerintah pusat menjadi kebutuhan yang tidak bisa dianggap sepele.

Pembangunan daerah hari ini tidak lagi cukup mengandalkan kekuatan APBD semata. Daerah harus mampu menjemput peluang, membangun jaringan, dan memperjuangkan perhatian pusat agar program-program strategis dapat mengalir ke daerah. Di sinilah peran diplomasi politik dan komunikasi pemerintahan menjadi sangat penting.

Tidak sedikit pihak yang mengakui bahwa hubungan yang harmonis antara Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dengan pemerintah pusat telah memberikan dampak positif terhadap berbagai agenda pembangunan. Sinergi yang terbangun antara unsur pemerintahan daerah, kementerian, lembaga negara, hingga dukungan jejaring politik nasional menjadi modal penting bagi percepatan pembangunan Sumatera Barat.

Yang juga tidak dapat diabaikan adalah harmonisasi kepemimpinan antara Mahyeldi dan Vasko dalam menghadapi berbagai tantangan daerah, terutama saat bencana melanda sejumlah wilayah Sumatera Barat. Sebagai daerah yang berada di kawasan rawan bencana, kecepatan respons pemerintah menjadi kebutuhan utama masyarakat.

Penilaian terhadap keberhasilan sebuah pemerintahan tentu tidak hanya bertumpu pada persepsi, tetapi juga dapat diukur melalui capaian yang nyata. Dalam konteks ini, kinerja Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dalam penanganan bencana dan pengelolaan keuangan daerah memperoleh apresiasi langsung dari Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Tito Karnavian.

Menurut Mendagri, kinerja penanganan tanggap darurat bencana dan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sumatera Barat termasuk yang terbaik di tingkat nasional. Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri melalui Direktorat Jenderal Keuangan Daerah, persentase realisasi belanja APBD Provinsi Sumatera Barat tercatat sebesar 85,58 persen dari total APBD sebesar Rp6.242.444.110.109. Dengan capaian tersebut, Sumatera Barat menempati peringkat ketiga nasional dalam tingkat persentase realisasi belanja APBD provinsi, berada di bawah Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Kepulauan Riau.

Sementara itu, untuk realisasi pendapatan, Provinsi Sumatera Barat berada pada peringkat kesepuluh nasional. Persentase realisasi pendapatan APBD Sumatera Barat mencapai 93,32 persen dari total target sebesar Rp6.126.300.815.516. Angka tersebut bahkan melampaui rata-rata realisasi pendapatan provinsi secara nasional yang berada pada level 89,31 persen.

Apresiasi tersebut disampaikan Tito Karnavian dalam Rapat Koordinasi Evaluasi Realisasi APBD Tahun 2025 yang diikuti seluruh kepala daerah se-Indonesia secara daring pada 24 Desember 2025. Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa secara persentase kinerja APBD Sumatera Barat tergolong baik. Tidak hanya dari sisi pengelolaan keuangan daerah, tetapi juga dalam penanganan kebencanaan yang menunjukkan hasil positif.

Pengakuan serupa juga diberikan terhadap kecepatan respons Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dalam menghadapi berbagai bencana yang melanda sejumlah wilayah. Menurut Tito, koordinasi lintas sektor berjalan efektif sehingga kebutuhan dasar masyarakat terdampak dapat dipenuhi dalam waktu relatif singkat. Bahkan dalam rapat lanjutan pembahasan hunian sementara dan hunian tetap bagi daerah terdampak bencana, Tito secara khusus menyampaikan apresiasinya kepada Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy.

“Di Sumatera Barat ini, Pak Vasko, kita salut. Kecepatan dan kekompakan sangat tinggi sekali. Sehingga mungkin tercepat recovery-nya dari tiga provinsi adalah di Sumatera Barat. Itu karena kemampuan Sumatera Barat ini memang hebat,” ujar Tito.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan penanganan bencana di Sumatera Barat tidak hanya dinilai dari dalam daerah, tetapi juga mendapat pengakuan dari pemerintah pusat. Kecepatan respons, kekompakan pemerintahan, dan kemampuan mengelola proses pemulihan menjadi indikator yang dapat diukur secara nyata, sekaligus memperlihatkan bagaimana sinergi kepemimpinan mampu menghasilkan dampak langsung bagi masyarakat.

Dalam berbagai peristiwa kebencanaan, koordinasi yang solid antara gubernur dan wakil gubernur memungkinkan pemerintah daerah bergerak lebih cepat dalam melakukan penanganan darurat, pendataan kerusakan, hingga memperjuangkan bantuan dan dukungan dari pemerintah pusat.

Kekompakan kepemimpinan tersebut memberikan keuntungan besar bagi Sumatera Barat. Energi pemerintah tidak habis untuk mengurus konflik internal atau tarik-menarik kepentingan politik, melainkan difokuskan pada upaya pemulihan masyarakat terdampak. Saat daerah lain kerap disibukkan oleh ketidakharmonisan antara kepala daerah dan wakil kepala daerah, Sumatera Barat justru menunjukkan model kerja sama yang relatif solid dalam menjalankan roda pemerintahan.

Di sisi lain, masyarakat juga menyaksikan bagaimana Vasko cukup aktif turun langsung ke berbagai daerah. Ia tidak hanya hadir dalam acara seremonial, tetapi juga mendatangi masyarakat untuk mendengar persoalan yang mereka hadapi secara langsung. Mulai dari isu infrastruktur, pertanian, pendidikan, kebencanaan, hingga pelayanan publik menjadi bagian dari aspirasi yang dikumpulkan dari bawah.

Selain dalam bidang pemerintahan dan pembangunan, perhatian Vasko Ruseimy terhadap pelestarian budaya Minangkabau juga menjadi bagian penting dari visi yang ia bawa untuk Sumatera Barat. Salah satu fokus yang terus diperjuangkannya adalah mengangkat kembali marwah silek atau pencak silat Minang sebagai identitas budaya yang tidak hanya hidup di kampung-kampung, tetapi juga dikenal dan dihormati di tingkat dunia.

Sebagai Ketua Umum IPSI Sumatera Barat, Vasko berulang kali menegaskan bahwa silat Minang bukan sekadar olahraga bela diri, melainkan warisan peradaban yang mengandung nilai karakter, etika, disiplin, dan filosofi hidup masyarakat Minangkabau. Karena itu, menurutnya, pelestarian silat harus berjalan beriringan dengan pembinaan prestasi olahraga.

Cita-cita tersebut tidak berhenti pada tataran wacana. Dalam kapasitasnya sebagai Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko mendorong lahirnya kebijakan Silat Tradisi Minang sebagai kegiatan ekstrakurikuler wajib di SMA, SMK, dan sekolah sederajat di Sumatera Barat. Gagasan ini lahir dari keyakinan bahwa generasi muda harus mengenal akar budayanya sendiri sebelum menghadapi persaingan global.

Baginya, membangun generasi muda tidak cukup hanya melalui pendidikan akademik. Karakter, jati diri, dan kebanggaan terhadap budaya daerah juga harus diperkuat agar anak-anak Sumatera Barat tetap memiliki pijakan yang kokoh di tengah arus modernisasi yang semakin cepat.

Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil yang nyata. Salah satunya terlihat dari prestasi Furgon Habil Winata, siswa SMA Negeri 1 Lubuk Basung, yang berhasil meraih medali emas pada Asian Youth Games Bahrain 2025. Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan atlet muda di Sumatera Barat mampu melahirkan talenta yang sanggup bersaing di tingkat internasional.

Dalam kurun waktu yang relatif singkat, Habil berhasil mengoleksi empat medali emas secara beruntun mulai dari Kejurda Sumatera Barat, Kejurnas Remaja, Asian Silat Competition di India, hingga Asian Youth Games di Bahrain. Prestasi tersebut menjadi simbol bahwa ketika pembinaan dilakukan secara serius dan berkelanjutan, anak-anak Sumatera Barat memiliki kemampuan untuk tampil sebagai yang terbaik di dunia.

Lebih jauh lagi, Vasko memandang pencak silat sebagai instrumen diplomasi budaya yang dapat memperkuat posisi Sumatera Barat di tingkat global. Menurutnya, silek Minang harus mampu menembus batas-batas tradisi lokal dan menjadi bagian dari percakapan dunia sebagai salah satu kekuatan budaya Indonesia.

Pandangan ini menunjukkan bahwa orientasi pembangunan yang dibawanya tidak hanya berkutat pada infrastruktur dan administrasi pemerintahan, tetapi juga mencakup upaya menjaga identitas budaya daerah agar tetap hidup dan berkembang. Dalam perspektif tersebut, prestasi atlet silat, pelestarian budaya Minangkabau, serta penguatan karakter generasi muda merupakan bagian dari agenda besar membangun Sumatera Barat yang maju tanpa kehilangan jati dirinya.

Dengan demikian, ketika berbicara tentang kontribusi Vasko Ruseimy, pembahasannya tidak hanya berkaitan dengan urusan birokrasi, pembangunan, atau hubungan pemerintah daerah dengan pemerintah pusat. Ada pula perhatian terhadap kebudayaan, pembinaan generasi muda, dan upaya menjadikan silek Minang sebagai kebanggaan Ranah Minang yang mampu berdiri sejajar di panggung internasional.

Karena itu, akan kurang adil jika seseorang hanya dinilai dari isu-isu yang sedang ramai diperbincangkan tanpa melihat keseluruhan rekam jejak pengabdiannya. Padahal isu-isu itu belum tentu ada hubungan langsung.

Masyarakat Sumatera Barat dikenal sebagai masyarakat yang kritis dan cerdas dalam menilai pemimpinnya. Tradisi intelektual dan budaya diskusi yang kuat membuat masyarakat tidak mudah menerima informasi secara mentah. Karena itu, setiap isu yang berkembang seharusnya diuji dengan akal sehat, data yang lengkap, dan pemahaman yang proporsional.

Apalagi menjelang dinamika politik yang selalu bergerak, sangat wajar jika muncul berbagai upaya untuk memengaruhi cara pandang publik terhadap tokoh-tokoh yang dianggap memiliki pengaruh besar. Namun masyarakat tentu mampu membedakan antara kritik yang bertujuan memperbaiki keadaan dengan opini yang hanya ingin membentuk kesan negatif.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan ditentukan oleh seberapa sering namanya menjadi perbincangan, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan masyarakat dari kerja yang dilakukannya. Ketika hubungan antara gubernur dan wakil gubernur berjalan harmonis, koordinasi dengan pemerintah pusat terbangun baik, dan aspirasi masyarakat terus dijemput secara langsung, maka fondasi pembangunan daerah menjadi lebih kuat.

Sumatera Barat membutuhkan energi untuk membangun, bukan sekadar memperpanjang polemik. Perbedaan pandangan adalah hal yang biasa dalam demokrasi, tetapi kepentingan daerah harus tetap ditempatkan di atas kepentingan kelompok maupun kepentingan politik jangka pendek.

Biarkan masyarakat menilai dengan kepala dingin. Lihat hasil kerjanya, ukur kontribusinya, periksa faktanya, lalu ambil kesimpulan secara objektif. Sebab pemimpin yang baik tidak selalu bebas dari kritik, tetapi publik yang bijak akan selalu berusaha melihat gambaran secara utuh sebelum menjatuhkan penilaian.

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.
x