Baca Juga
8 jam  lalu | OPINI
  Oleh: Deni Syaputra, S.H., M.H.  Akademisi dan Praktisi Hukum  Tanggal 1 Oktober 2026 menjadi momentum penting bagi masyarakat Sumatera Barat. Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor 4 Tahun 2019, tanggal 1 Oktober 1945 ditetapkan sebagai Hari Jadi Provinsi Sumatera Barat. Tahun 2026 ini, Sumatera Barat genap berusia 81 Tahun.  Delapan puluh satu tahun bukanlah usia yang pendek. Ia merupakan perjalanan panjang yang penuh dinamika: pergantian generasi, perubahan politik, perkembangan ekonomi, kemajuan teknologi, serta perubahan pola kehidupan masyarakat.  Karena itu, HUT ke-81 Sumatera Barat semestinya tidak berhenti pada seremoni, spanduk, baliho dan ucapan selamat. Hari jadi harus menjadi momentum untuk bertanya lebih dalam: Sumatera Barat yang kita bangun hari ini hendak menjadi Sumatera Barat yang seperti apa?  Saya menyampaikan selamat HUT ke-81 untuk Sumatera Barat kepada Gubernur, Wakil Gubernur, seluruh kepala daerah kabupaten/kota, DPRD, Forkopimda, ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, generasi muda dan seluruh masyarakat Sumatera Barat.  Semoga usia ke-81 ini menjadi titik awal untuk bekerja lebih keras, lebih terukur dan lebih dekat dengan persoalan nyata masyarakat.  Kemajuan ekonomi penting, tetapi pembangunan manusia jauh lebih penting  Tidak dapat dipungkiri, pembangunan Sumatera Barat harus terus bergerak. Infrastruktur, investasi, pariwisata, pendidikan, kesehatan dan pertumbuhan ekonomi tetap menjadi agenda penting.  Data BPS menunjukkan bahwa pada Maret 2026 persentase penduduk miskin Sumatera Barat berada pada angka 5,27 persen, atau sekitar 311,14 ribu orang. Angka ini menurun dibandingkan September 2025 yang mencapai 5,31 persen. Namun demikian, kemiskinan di wilayah perdesaan masih berada pada angka 6,88 persen.  Angka tersebut mengingatkan kita bahwa pembangunan belum selesai hanya karena indikator makro menunjukkan perbaikan. Pemerintah daerah masih mempunyai pekerjaan besar untuk memastikan bahwa pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat sampai ke tingkat nagari.  Tetapi ada satu persoalan lain yang menurut saya tidak kalah penting: pembangunan manusia dan karakter masyarakat.  Sebab sebuah daerah tidak hanya dinilai dari panjang jalan yang dibangun, gedung yang berdiri, investasi yang masuk atau besarnya APBD. Sebuah daerah juga dinilai dari kualitas perilaku masyarakatnya.  Di sinilah falsafah Minangkabau memperoleh relevansinya kembali: “Adaik basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah.” Falsafah ini bukan sekadar kalimat yang indah untuk ditampilkan dalam berbagai acara resmi. Ia seharusnya menjadi pedoman etika sosial dalam kehidupan masyarakat.  Ketika falsafah besar menghadapi realitas kehidupan  Kita tentu tidak boleh mengatakan bahwa seluruh masyarakat Sumatera Barat telah meninggalkan adat dan agama. Masih banyak keluarga yang memegang teguh adat, masih banyak surau yang hidup, masih banyak ulama yang membimbing umat, masih banyak ninik mamak yang menjalankan tanggung jawab sosial, dan masih banyak generasi muda yang berprestasi.  Namun kita juga tidak boleh menutup mata terhadap berbagai persoalan sosial yang muncul. Data BPS berdasarkan catatan Polda Sumatera Barat menunjukkan bahwa sepanjang 2025 terdapat 13.501 kejahatan yang dilaporkan di Sumatera Barat. Risiko penduduk mengalami tindak pidana tercatat 267 per 100.000 penduduk, sedangkan persentase penyelesaian tindak pidana tercatat 86 persen. Angka tersebut tentu tidak otomatis menggambarkan kualitas moral seluruh masyarakat Sumatera Barat. Tetapi angka itu cukup menjadi alarm bahwa persoalan sosial dan hukum masih membutuhkan perhatian serius.  Demikian pula persoalan keluarga. Pada 2025 tercatat 8.963 perkara perceraian di Sumatera Barat. Dari jumlah tersebut, 7.751 perkara atau sebagian besar tercatat dengan faktor perselisihan dan pertengkaran terus-menerus. Data ini tentu harus dibaca secara hati-hati karena perceraian memiliki banyak faktor penyebab dan statistik tersebut hanya mencatat perkara yang masuk dalam sistem peradilan agama.  Namun angka itu tetap memberikan pesan penting: ketahanan keluarga harus menjadi bagian dari agenda pembangunan daerah. Sebab keluarga adalah sekolah pertama bagi seorang anak. ..
13 jam  lalu | HUKUM
PASAMAN BARAT — Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Pasaman Barat melalui Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) menggelar sosialisasi dan..
1 hari  lalu | RAGAM
Pasaman Barat – Kepolisian Sektor (Polsek) Kinali, Polres Pasaman Barat, melakukan patroli, monitoring, dan pengamanan antrean kendaraan di SPBU Base..
1 hari  lalu | NASIONAL POLITIK
JAKARTA — Polemik Lapas Kelas IIA Cibinong, Kabupaten Bogor, terus bergulir menyusul temuan Ombudsman RI terkait kondisi dan fasilitas di..
2 hari  lalu | HUKUM
Jakarta — Prof. Abdul Latif memberikan apresiasi terhadap penelitian disertasi Sri Hartati yang mengkaji mekanisme keberatan pihak ketiga beritikad baik..
2 hari  lalu | REGIONAL
PASAMAN, – Kondisi ruas jalan provinsi Sumatera Barat Panti–Simpang Empat masih menjadi sorotan. Dari tahun ke tahun, banyak titik pada..
4 hari  lalu | HUKUM
Jakarta — Perlindungan hukum terhadap korban dugaan tindak pidana malpraktik tenaga medis di rumah sakit dinilai masih menghadapi berbagai persoalan,..
1 minggu  lalu | PERISTIWA
Pasaman – Ketua Fraksi Gerindra DPRD Sumatera Barat yang juga Ketua DPD Partai Gerindra Kabupaten Pasaman, Khairuddin Simanjuntak, turun langsung..
1 minggu  lalu | NASIONAL
Jakarta – Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Golkar Dapil Sumatera Barat 2, Benny Utama menegaskan konflik agraria struktural..
1 minggu  lalu | HUKUM
JAKARTA — Pria berinisial RS (43) ditetapkan sebagai tersangka setelah menendang seorang wanita berinisial TL yang sedang mengantre makanan di..
Tidak ada komentar untuk ditampilkan.
x