Wagub Vasko Dorong Pertanian Modern, Produktivitas Padi Ditargetkan 12 Ton per Hektare

PenaHarian.com
26 Jul 2026 13:24
3 menit membaca

SOLOK — Pemerintah Provinsi Sumatera Barat terus mendorong modernisasi sektor pertanian melalui pemanfaatan teknologi, mekanisasi, dan pola budidaya yang lebih efisien. Langkah tersebut ditandai dengan penanaman perdana benih padi menggunakan sistem Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) di lahan Kelompok Tani Rawang Sari, Nagari Salayo, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Sabtu (25/7/2026).

Wakil Gubernur Sumbar Vasko Ruseimy mengatakan, pertanian modern menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.

Menurutnya, peningkatan produksi pangan tidak bisa lagi hanya mengandalkan penambahan luas lahan. Terlebih, ketersediaan lahan sawah semakin terbatas sementara kebutuhan pangan masyarakat terus meningkat.

“Ini kegiatan yang bagus sekali untuk mendukung program pemerintah,” kata Vasko.

Ia menegaskan, pemanfaatan teknologi pertanian harus dibarengi dengan pendampingan secara berkelanjutan. Dengan demikian, inovasi yang diterapkan tidak hanya berhenti sebagai kegiatan percontohan, tetapi benar-benar dapat diadopsi petani dan memberikan dampak terhadap hasil produksi.

“Kita ingin teknologi ini benar-benar diterapkan oleh petani sehingga produktivitas meningkat dan kesejahteraan mereka ikut terangkat,” ujarnya.

Kegiatan penanaman perdana tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Solok Chandra, Kepala Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Sumbar Afniwirman, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok Deslirizaldi, Kepala BRMP Sumbar, penyuluh pertanian, kelompok tani, serta masyarakat setempat.

Kepala Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Sumbar Afniwirman menjelaskan, PM-AAS merupakan program pertanian modern yang digagas Menteri Pertanian untuk meningkatkan produktivitas melalui mekanisasi dan penerapan teknik budidaya serta penanaman benih yang lebih presisi.

Dalam sistem ini, benih tidak terlebih dahulu melalui proses persemaian seperti pola konvensional. Benih langsung ditanam menggunakan alat khusus sehingga proses tanam menjadi lebih cepat dan efisien, sekaligus mengurangi kebutuhan tenaga kerja.

Metode tersebut juga memungkinkan pengaturan populasi tanaman secara lebih optimal. Namun, kebutuhan benih dalam penerapan PM-AAS mencapai sekitar 70 hingga 80 kilogram per hektare, lebih tinggi dibandingkan sistem konvensional yang rata-rata membutuhkan sekitar 25 kilogram per hektare.

Kebutuhan pupuk juga disesuaikan dengan populasi tanaman yang lebih rapat. Dengan penerapan sistem tersebut, produktivitas ditargetkan mencapai sekitar 10 hingga 12 ton gabah per hektare.

“Kalau luas lahan sawah semakin terbatas, maka yang harus kita lakukan adalah meningkatkan produktivitas dari setiap hektare lahan yang ada,” ujar Afniwirman.

Ia mengatakan, penanaman di Nagari Salayo menjadi penerapan perdana PM-AAS di Sumatera Barat setelah sebelumnya masih dalam tahap uji coba.

“Hari ini merupakan penanaman pertama PM-AAS di Sumatera Barat. Sebelumnya baru tahap uji coba,” katanya.

Untuk memperluas penerapan pertanian modern tersebut, pemerintah akan mengoptimalkan peran penyuluh pertanian sebagai pendamping petani di lapangan. Setiap penyuluh ditargetkan mendampingi penerapan PM-AAS pada lahan sekitar 50 hektare.

Dengan jumlah penyuluh pertanian di Sumatera Barat yang mencapai lebih dari 1.000 orang, potensi pendampingan program tersebut diperkirakan dapat menjangkau sekitar 50 ribu hektare lahan pertanian.

Pemprov Sumbar berharap penerapan PM-AAS di Kabupaten Solok dapat menjadi model bagi pengembangan pertanian modern di sentra produksi padi lainnya. Melalui mekanisasi, pemanfaatan teknologi, dan pendampingan berkelanjutan, produktivitas pertanian diharapkan meningkat sehingga ketahanan pangan daerah semakin kuat dan target swasembada pangan nasional dapat didukung.

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.
x