Gubernur Mahyeldi Ingatkan Generasi Muda Kuasai AI Tanpa Kehilangan Karakter

PenaHarian.com
3 Sep 2026 21:42
3 menit membaca

PADANG — Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah, mengingatkan generasi muda agar mampu memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) secara bijak tanpa mengabaikan karakter, moral, dan kemampuan berpikir kritis.

Menurut Mahyeldi, perkembangan teknologi harus tetap berada di bawah kendali manusia dan dimanfaatkan untuk memberikan manfaat bagi kehidupan. Pesan tersebut disampaikannya saat membuka Pelatihan Literasi AI Program AI Ready ASEAN di Auditorium Universitas Negeri Padang (UNP), Kamis (3/9/2026).

Kegiatan yang digelar Yayasan Ruangguru bersama ASEAN Foundation itu bertujuan meningkatkan kesiapan pelajar dan pendidik dalam menghadapi perkembangan teknologi AI.

Mahyeldi mengapresiasi kolaborasi Yayasan Ruangguru, ASEAN Foundation, dan Pemprov Sumbar dalam pelaksanaan program literasi AI. Ia menilai AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas pekerjaan, mempercepat proses, serta menciptakan efisiensi, terutama dalam bidang pendidikan.

“AI memberikan banyak kemudahan, efisiensi, dan percepatan. Namun, teknologi tidak memiliki karakter dan moral. Karena itu, kemajuan teknologi harus diimbangi dengan penguatan nilai-nilai kemanusiaan agar AI menjadi alat yang kita kendalikan, bukan justru mengendalikan kita,” tegas Mahyeldi.

Ia menyebut perkembangan teknologi juga menuntut para guru untuk terus meningkatkan kompetensi. Di sisi lain, siswa perlu dibiasakan untuk tidak langsung menerima setiap informasi yang diperoleh melalui teknologi digital maupun AI.

Menurutnya, kemampuan memeriksa dan mempertanyakan informasi harus menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.

“Anak-anak kita jangan hanya mampu mengakses informasi, tetapi juga harus mampu mempertanyakan informasi tersebut. Kemampuan bertanya, memeriksa, dan berpikir kritis harus terus kita tumbuhkan,” ujarnya.

Mahyeldi mengatakan kemampuan berpikir kritis sejalan dengan karakter masyarakat Minangkabau yang terbiasa menggunakan akal dan pertimbangan dalam menghadapi berbagai persoalan.

Karena itu, pemanfaatan teknologi menurutnya harus berjalan beriringan dengan penguatan kejujuran, akhlak, serta karakter generasi muda.

“Generasi muda adalah penentu masa depan bangsa. Kuasai teknologi, tetapi jangan kehilangan karakter, kejujuran, dan akhlak. Jangan sampai teknologi menguasai kita; kitalah yang harus mengendalikan dan memanfaatkannya untuk kebaikan,” katanya.

Head of Programme ASEAN Foundation, Ilan Asqolani, menjelaskan Program AI Ready ASEAN yang didukung Google.org diarahkan untuk memperkuat kesiapan masyarakat ASEAN dalam menggunakan AI secara kritis, etis, dan bertanggung jawab.

Hingga saat ini, program tersebut telah menjangkau lebih dari 8,6 juta penerima manfaat di 10 negara ASEAN.

Khusus di Indonesia, AI Ready ASEAN telah menjangkau lebih dari 5,4 juta penerima manfaat. Jumlah tersebut melampaui target awal sekitar 2,7 juta orang.

Ilan menegaskan program tersebut tidak hanya mendorong masyarakat menjadi pengguna AI, tetapi juga membangun kemampuan untuk memahami, mempertanyakan, serta mengenali risiko dan keterbatasan teknologi tersebut.

Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan SMA Dinas Pendidikan Provinsi Sumbar, Mahyan, melaporkan pelatihan diikuti seluruh kepala SMA/SMK se-Sumbar bersama wakil kepala sekolah bidang kurikulum.

Sebanyak 1.000 siswa SMA/SMK dari Kota Padang mengikuti kegiatan secara langsung. Sementara peserta dari daerah lainnya mengikuti pelatihan secara daring.

“Kami berharap pelatihan ini mendorong guru melahirkan inovasi dan kreativitas dalam pembelajaran, sekaligus memahami etika dalam pemanfaatan AI,” ujar Mahyan.

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.
x