Gubernur Mahyeldi Dorong Unand Jadi Pusat Inovasi Energi Masa Depan

PenaHarian.com
4 Sep 2026 21:49
3 menit membaca

PADANG — Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah, mendorong Universitas Andalas (Unand) menjadi salah satu pusat inovasi dan pengembangan energi masa depan. Menurutnya, Sumbar tidak bisa hanya mengandalkan sumber daya alam, tetapi perlu memperkuat pemanfaatan energi terbarukan melalui pengetahuan, teknologi, inovasi, dan sumber daya manusia (SDM) unggul.

Hal tersebut disampaikan Mahyeldi saat menghadiri Pertamina Goes to Campus (PGTC) 2026 Regional Sumbar di Auditorium Universitas Andalas (Unand), Jumat (4/9/2026).

Mahyeldi berharap kegiatan tersebut menjadi awal terbentuknya kolaborasi konkret antara Pertamina, Unand, Pemerintah Provinsi Sumbar, dan dunia usaha dalam mengembangkan inovasi di bidang energi.

“Kami ingin setelah hari ini lahir banyak kolaborasi antara Pertamina, Universitas Andalas, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, dan dunia usaha. Mahasiswa harus diberikan ruang melakukan riset, dosen berinovasi, industri membuka ruang pengembangan teknologi, dan pemerintah memastikan inovasi tersebut diterapkan untuk kepentingan masyarakat,” kata Mahyeldi.

Menurut Mahyeldi, Sumbar memiliki potensi energi terbarukan, termasuk energi angin. Namun, potensi tersebut membutuhkan dukungan riset, investasi, teknologi, dan SDM agar dapat dikembangkan menjadi kekuatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Karena itu, ia berharap Unand dapat menjadi salah satu tempat lahirnya gagasan, teknologi, dan tenaga ahli yang mampu mengembangkan energi terbarukan untuk kebutuhan masa depan.

“Saya ingin mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi pencipta teknologi. Tidak hanya menjadi konsumen energi, tetapi generasi yang mampu merancang sistem energi yang lebih bersih, efisien, mandiri, dan berkelanjutan,” tegasnya.

Mahyeldi juga menekankan perlunya membangun sistem energi yang tangguh terhadap risiko bencana sekaligus memastikan akses energi dapat dirasakan secara merata hingga wilayah terpencil dan kepulauan.

Menurutnya, ketersediaan energi menjadi salah satu fondasi penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

“Kita akan mempersiapkan tenaga surya di Mentawai. Tidak mungkin industri bergerak dan ekonomi lebih cepat kalau ketersediaan energi masih belum terjamin,” ujarnya.

Ia menambahkan, transisi energi harus diwujudkan melalui langkah nyata, mulai dari pengembangan energi terbarukan, teknologi penyimpanan, sistem kelistrikan cerdas, hingga inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat.

Untuk mewujudkannya, sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan generasi muda dinilai perlu terus diperkuat.

Rektor Unand, Efa Yonnedi, mengapresiasi Pertamina yang menjadikan lingkungan kampus sebagai ruang kolaborasi antara akademisi dan industri. Menurutnya, PGTC memiliki peran penting dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi berbagai perubahan, termasuk di bidang energi, iklim, demografi, geopolitik, dan disrupsi teknologi.

“Bagaimana kita ikut menjadi bagian, menjadi inovator, menjadi peneliti, menjadi mahasiswa penggerak untuk menemukan solusi-solusi baru mengatasi perubahan iklim,” kata Efa.

Sementara itu, Vice President Stakeholders Relation & Management PT Pertamina (Persero), Rifky Rahman Yusuf, menegaskan PGTC bukan sekadar agenda Pertamina untuk hadir di lingkungan kampus. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang interaksi dan jembatan kolaborasi antara dunia industri dan akademisi.

“Karena kami percaya masa depan Indonesia tidak dapat dibangun hanya oleh pemerintah, industri, ataupun perguruan tinggi sendiri. Kita membutuhkan sinergi antara pemerintah, industri, akademisi, dan seluruh generasi muda,” ujar Rifky.

Mengusung tema “Energizing Acceleration for Future Impact”, PGTC 2026 menjadi ruang untuk mempertemukan kebutuhan industri, kapasitas akademik, dan gagasan generasi muda dalam mempercepat transformasi energi Indonesia serta melahirkan inovasi yang memberikan dampak bagi masyarakat.

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.
x