
PADANG – Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menegaskan pentingnya memperkuat pemahaman fikih wasathiyah atau fikih moderat sebagai landasan dalam menjaga persatuan umat sekaligus menjawab berbagai persoalan keagamaan yang terus berkembang di tengah masyarakat. Menurutnya, pendekatan keislaman yang moderat, argumentatif, dan berorientasi pada kemaslahatan menjadi kebutuhan di era saat ini. Padang, Kamis (30/7/2026).
Hal itu disampaikan Mahyeldi saat membuka Nadwah Fiqhiyyah Internasional yang menghadirkan ulama dan pakar syariah asal Suriah, Syekh Abdul Al-Razzaq An-Najm. Kegiatan yang diselenggarakan Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Sumbar tersebut berlangsung di Aula Kantor Gubernur Sumbar, Rabu (29/7/2026).
Forum ilmiah bertajuk “Prinsip-prinsip Metodologis dalam Pemanfaatan Pendapat Fuqaha pada Isu-Isu Fikih Kontemporer” itu diikuti sekitar 100 peserta yang terdiri dari para dai, dosen, guru pondok pesantren, dan praktisi keislaman dari berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Barat.
Dalam sambutannya, Mahyeldi mengatakan umat Islam membutuhkan pemahaman agama yang mampu menghadirkan ketenangan, memperkuat ukhuwah, serta menjaga persatuan. Menurutnya, dakwah kepada masyarakat harus mengedepankan nilai-nilai yang menyejukkan, sementara pembahasan ilmiah yang lebih mendalam menjadi ruang bagi para ulama untuk memperkaya khazanah keilmuan Islam.
“Umat harus disuguhi pemahaman yang menghadirkan kedamaian, ketenangan, serta menjaga persatuan. Adapun pembahasan yang bersifat mendalam memiliki forum tersendiri di kalangan para ulama. Alhamdulillah, hal itu juga ditekankan oleh Syekh Abdul Al-Razzaq An-Najm,” ujar Mahyeldi.
Ia menilai kehadiran Syekh Abdul Al-Razzaq An-Najm di Sumatera Barat menjadi momentum berharga untuk memperkuat tradisi dialog ilmiah sekaligus memperluas wawasan keislaman para dai, akademisi, dan pendidik.
Menurut Mahyeldi, Suriah memiliki hubungan historis yang erat dengan Indonesia dalam tradisi keilmuan Islam. Mayoritas masyarakat Suriah menganut mazhab Syafi’i yang juga menjadi rujukan utama umat Islam di Indonesia.
“Mudah-mudahan hubungan keilmuan ini terus berkembang. Suriah memiliki warisan peradaban Islam yang luar biasa, dengan jejak para sahabat Rasulullah SAW dan ulama besar yang dapat menjadi sumber inspirasi bagi umat Islam,” katanya.
Mahyeldi juga berharap IKADI Sumbar terus berperan aktif dalam memberikan pencerahan kepada masyarakat terhadap berbagai persoalan keagamaan yang terus berkembang.
Ia menegaskan bahwa penguatan fikih wasathiyah perlu terus dilakukan agar mampu menjawab berbagai persoalan keagamaan kontemporer tanpa mengabaikan prinsip-prinsip syariat Islam.
“Kami berharap IKADI terus memperkuat pemahaman fikih yang wasathiyah dan mampu merespons berbagai persoalan kontemporer yang berkembang di tengah masyarakat,” tegasnya.
Menurut Mahyeldi, berbagai persoalan keagamaan saat ini membutuhkan jawaban yang didasarkan pada metodologi fikih yang kuat, argumentatif, dan berorientasi pada kemaslahatan. Karena itu, forum ilmiah seperti Nadwah Fiqhiyyah dinilai penting untuk meningkatkan kapasitas para dai dan akademisi dalam membimbing masyarakat.
Selain penguatan nilai-nilai keagamaan, Mahyeldi menegaskan pembangunan sumber daya manusia yang berkarakter menjadi salah satu syarat penting dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Menurutnya, pembangunan karakter harus berjalan seiring dengan penguatan ketahanan pangan, ketahanan energi, dan ketahanan nasional.
“Kita ingin berkontribusi untuk Indonesia Emas 2045. Karena itu, pembangunan karakter harus berjalan seiring dengan penguatan ketahanan pangan, ketahanan energi, dan ketahanan nasional,” ujarnya.
Anggota DPR RI Rahmat Saleh yang turut hadir menyampaikan dukungannya terhadap penyelenggaraan Nadwah Fiqhiyyah Internasional. Ia berkomitmen mendorong keberlanjutan program penguatan kajian keislaman tersebut melalui agenda reses agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Sementara itu, Wakil Ketua IKADI Sumbar Muhammad Rido menyampaikan apresiasi kepada Syekh Abdul Al-Razzaq An-Najm yang memenuhi undangan setelah menempuh perjalanan panjang dari Damaskus menuju Padang. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Mahyeldi atas dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.
“Kami bersyukur Buya Gubernur memberikan perhatian besar terhadap kegiatan ini. Dukungan pemerintah menjadi bukti nyata bahwa penguatan ilmu syariah merupakan bagian penting dalam pembangunan masyarakat Sumatera Barat,” ujarnya.
Ketua Panitia, Dr. Defrinal, M.A., menjelaskan bahwa kegiatan diikuti sekitar 100 peserta yang berasal dari kalangan dosen, guru, pengasuh pondok pesantren, serta dai dari seluruh kabupaten dan kota di Sumatera Barat.
Ia mengatakan jumlah peserta sengaja dibatasi agar proses pembelajaran berlangsung lebih efektif. Selama lebih dari tujuh jam, peserta mengikuti pembahasan metodologi fikih kontemporer secara mendalam dengan materi yang disampaikan langsung menggunakan bahasa Arab.
“Forum ini dirancang untuk memperdalam kapasitas para dai, akademisi, dan pendidik dalam memahami persoalan fikih kontemporer langsung dari ahlinya,” kata Defrinal.
Melalui Nadwah Fiqhiyyah Internasional tersebut, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat bersama IKADI berharap lahir lebih banyak dai dan akademisi yang memiliki pemahaman syariah yang mendalam, mampu menghadirkan dakwah yang menyejukkan, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta menjadi perekat persatuan umat di tengah kehidupan bermasyarakat.