100 Tahun Jam Gadang, Bukittinggi Tegaskan Jati Diri Kota Perjuangan

PenaHarian.com
22 Jun 2026 07:33
2 menit membaca

BUKITTINGGI — Pemerintah Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, memanfaatkan peringatan 100 Tahun Jam Gadang sebagai momentum untuk memperkuat identitas budaya sekaligus mempererat hubungan diplomatik dengan Belanda. Upaya tersebut diwujudkan melalui seminar internasional bertema “Merajut Tenun Diplomasi antara Indonesia dan Belanda: Pergerakan Kemerdekaan Hingga Repatriasi” yang digelar di Bukittinggi, Sabtu 20 Juni 2026.

Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias mengatakan kegiatan tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkuat hubungan antara Indonesia dan Belanda, khususnya hubungan Bukittinggi dengan Belanda. Menurutnya, kehadiran perwakilan dari 38 negara dalam rangkaian peringatan 100 Tahun Jam Gadang membuka peluang kerja sama yang lebih luas di tingkat internasional.

“Kita ingin kerja sama yang terjalin dapat memberikan manfaat bagi Kota Bukittinggi dan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Ramlan menegaskan Jam Gadang bukan sekadar menara jam yang menjadi ikon kota, tetapi juga saksi perjalanan sejarah, penjaga memori kolektif masyarakat, serta simbol identitas Bukittinggi yang memiliki nilai historis kuat.

Ia menilai sejarah yang dimiliki Bukittinggi tidak hanya untuk dikenang, tetapi juga menjadi pelajaran penting bagi generasi penerus sekaligus modal dalam membangun hubungan diplomatik dengan Belanda maupun negara-negara lainnya.

Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Marc Gerritsen, menyebut Bukittinggi memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah Indonesia. Menurutnya, perjuangan masyarakat Minangkabau melawan kolonialisme telah membentuk identitas masyarakat yang berlandaskan adat dan agama, serta melahirkan banyak tokoh intelektual dan pemimpin bangsa.

Marc mengatakan hubungan Belanda dan Indonesia, khususnya dengan masyarakat Minangkabau, tidak hanya terjalin melalui sejarah, tetapi juga berkembang dalam bidang pendidikan, budaya, dan ekonomi. Ia menilai Jam Gadang menjadi simbol persahabatan yang telah bertahan lama antara kedua negara serta menjadi saksi berbagai peristiwa penting selama satu abad terakhir.

Sementara itu, Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, mengapresiasi langkah Pemkot Bukittinggi dalam menyelenggarakan peringatan 100 Tahun Jam Gadang. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap sejarah dan budaya, tetapi juga memberikan dampak ekonomi dan manfaat berkelanjutan bagi daerah.

Ia menilai peringatan tersebut merupakan langkah penting dalam memperkuat identitas budaya sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Karena itu, Fadli Zon mendorong agar slogan Bukittinggi sebagai Kota Perjuangan terus dikedepankan.

Menurutnya, Bukittinggi memiliki peran besar dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, terutama saat menjadi pusat Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada 1948. Ia menegaskan bahwa pelestarian warisan sejarah dan budaya menjadi tanggung jawab bersama agar nilai-nilai tersebut tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.
x