Mahyeldi dan Menteri Lingkungan Hidup Canangkan Gerakan Tobat Ekologis untuk Perkuat Mitigasi Bencana di Sumbar

PenaHarian.com
14 Jul 2026 20:41
3 menit membaca

PADANG PARIAMAN – Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah bersama Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup RI, Moh Jumhur Hidayat, mencanangkan Gerakan Tobat Ekologis yang dirangkaikan dengan penanaman pohon di Politeknik Pelayaran Sumatera Barat, Kabupaten Padang Pariaman. Gerakan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat mitigasi bencana hidrometeorologi sekaligus mendorong pelestarian lingkungan secara berkelanjutan. Selasa (14/7/2026).

Kegiatan tersebut juga diisi dengan peninjauan inovasi Humanist, Smart, Sustainable, Eco-Friendly Campus (HSSEC) Green Campus yang menampilkan berbagai inovasi pengelolaan lingkungan serta pengolahan sampah terpadu di lingkungan kampus.

Momentum itu dimanfaatkan untuk memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia pendidikan, dunia usaha, dan masyarakat dalam membangun kesadaran bersama menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mengurangi risiko bencana.

Menteri Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat menegaskan bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab seluruh elemen bangsa. Menurutnya, Indonesia memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan global sehingga dibutuhkan kolaborasi lintas sektor untuk menghadapi dampak perubahan iklim.

Ia menjelaskan, pemerintah menginisiasi Gerakan Tobat Ekologis Nasional sebagai langkah bersama memperbaiki kerusakan lingkungan. Gerakan tersebut diwujudkan melalui berbagai aksi nyata, seperti rehabilitasi lahan kritis, pengelolaan sampah, pengembangan ekonomi sirkular, perdagangan karbon, hingga penciptaan lapangan kerja hijau (green jobs).

“Seluruh pihak harus mengambil peran sesuai kapasitasnya. Yang memiliki kewenangan menggunakan kewenangannya, yang memiliki ilmu menggunakan ilmunya, dan yang memiliki pengaruh menggunakan pengaruhnya untuk menyelamatkan lingkungan. Dengan kolaborasi, Indonesia dapat menjadi contoh bagi dunia dalam pengelolaan lingkungan hidup,” ujar Jumhur.

Sementara itu, Gubernur Mahyeldi mengatakan Gerakan Tobat Ekologis sangat relevan bagi Sumatera Barat yang dalam beberapa tahun terakhir kerap dilanda bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor. Menurutnya, berbagai bencana tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga kelestarian lingkungan merupakan kebutuhan untuk mengurangi risiko bencana di masa mendatang.

“Gerakan Tobat Ekologis mengajak kita melakukan perubahan nyata dalam memperlakukan lingkungan. Ketika alam dijaga, maka kita juga sedang melindungi kehidupan masyarakat dan generasi yang akan datang,” kata Mahyeldi.

Ia mengungkapkan, Pemerintah Provinsi Sumbar secara bertahap telah menerapkan kebijakan pengelolaan sampah mandiri di seluruh kantor pemerintahan tingkat provinsi dan sekolah yang berada di bawah kewenangan pemerintah provinsi. Kebijakan tersebut diharapkan mampu mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir sekaligus membangun budaya peduli lingkungan.

Mahyeldi juga mengapresiasi Politeknik Pelayaran Sumatera Barat yang dinilai berhasil mengembangkan sistem pengelolaan sampah terpadu. Berbagai inovasi yang diterapkan mampu mengolah sampah organik menjadi maggot bernilai ekonomi, pupuk organik, hingga cairan pengendali hama yang bermanfaat bagi sektor pertanian.

“Pengelolaan sampah yang dilakukan Politeknik Pelayaran Sumatera Barat membuktikan bahwa sampah dapat menjadi sumber manfaat apabila dikelola dengan inovasi yang tepat. Model seperti ini layak dikembangkan di berbagai institusi pendidikan maupun perkantoran di Sumatera Barat,” ujarnya.

Selain meninjau pengelolaan lingkungan, Mahyeldi turut mengapresiasi keberhasilan Politeknik Pelayaran Sumbar dalam mencetak sumber daya manusia yang mampu terserap di dunia kerja bahkan sebelum menyelesaikan pendidikan. Pemprov Sumbar, lanjutnya, siap mendukung peningkatan akses bagi putra-putri daerah untuk menempuh pendidikan di institusi tersebut.

Pada kesempatan yang sama diserahkan bantuan Program Ketahanan Pangan Nasional hasil kolaborasi Politeknik Pelayaran Sumbar bersama PT PLN UID Sumbar berupa 5.000 bibit kelapa setiap tiga bulan. PT Semen Padang juga menyerahkan bantuan 3.300 bibit mangrove sebagai bagian dari rehabilitasi kawasan pesisir dan penguatan ekosistem lingkungan.

Melalui Gerakan Tobat Ekologis, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat berharap lahir gerakan bersama yang melibatkan pemerintah, dunia pendidikan, dunia usaha, dan masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan, mengurangi timbulan sampah, serta memperkuat ketahanan daerah menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi menuju Indonesia Emas 2045.

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.
x