Padang, – Indonesia Traffic Watch (ITW) mendesak pemerintah segera menyediakan alat penghubung atau jembatan darurat di kawasan Lembah Anai setelah jalur nasional Padang–Bukittinggi terputus akibat longsor pada Kamis, 27 November 2025 lalu. Hingga kini 12 Desember 2025, kendaraan roda empat masih belum bisa melintas sehingga aktivitas masyarakat sangat terganggu.
Ketua Presidium ITW, Edison Siahaan, menekankan bahwa jalan raya merupakan sarana vital bagi kehidupan masyarakat. Menurutnya, ketika akses utama terputus, dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan mobilitas setiap hari.
Ia menegaskan perlunya langkah cepat berupa pembangunan jembatan sementara atau fasilitas penghubung lain agar aktivitas publik tidak lumpuh. Edison menilai kondisi saat ini tidak boleh dibiarkan terlalu lama, jangan menunggu pembangunan selesai.
Terkait kemacetan yang kian padat akibat buka-tutup jalur, Edison menyebut hal itu menjadi tanggung jawab Dinas Perhubungan dan Polri. “Dishub diminta menyiapkan sarana seperti regulasi dan petunjuk arah, sementara Polri perlu mengatur kelancaran serta ketertiban pengguna jalan”, kata Edison Siahaan kepada PenaHarian.com.
Ketua Presidium ITW itu menekankan kedua lembaga tersebut harus bersinergi agar situasi dapat tertangani secara efektif.
Sebelumnya, masa uji coba jalur utama Padang–Bukittinggi melalui Lembah Anai terhadap kenderaan roda 2 diuji coba pada 8-10 Desember 2025 kemarin. Selama masa uji coba, kendaraan diizinkan melintas pada dua sesi, yakni pukul 6.00–8.00 WIB pada pagi hari dan pukul 16.30–18.30 WIB pada sore hari.
Namun kini akses telah ditutup kembali. “Jalur Lembah Anai belum dibuka. Beberapa hari yang lalu sempat uji coba untuk sepeda motor, tapi sudah ditutup kembali”, kata Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Barat, Dedy Diantolani, Jumat (12/12/2025) siang.
Jalur Lembah Anai ini ditargetkan akan bisa dilalui kenderaan roda empat pada 16 Desember 2025 besok.