Filariasis (Penyakit Kaki Gajah): Bahaya yang Tidak Mematikan, Tapi Bisa Melumpuhkan Seumur Hidup

PenaHarian.com
25 Mei 2025 19:07
HUKUM 0
5 menit membaca

Oleh: dr. Ahmad Riski (Dokter Puskesmas Kinali)

Filariasis atau yang lebih dikenal di masyarakat sebagai penyakit kaki gajah merupakan penyakit menular menahun yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria. Penyakit ini memang jarang menyebabkan kematian, namun dampaknya sangat serius karena dapat menimbulkan kecacatan seumur hidup. Akibat kecacatan tersebut, penderita sering mengalami penurunan produktivitas, keterbatasan aktivitas, serta dampak sosial dan ekonomi yang berat.

Filariasis ditandai dengan pembengkakan pada beberapa bagian tubuh, terutama di daerah lipatan seperti kaki, lengan, ketiak, dan bahkan alat kelamin. Pembengkakan terjadi akibat tersumbat dan rusaknya saluran getah bening (limfa). Pada kondisi yang sudah berat, penderita bisa mengalami kesulitan berjalan karena ukuran dan berat kaki yang membesar, sehingga aktivitas sehari-hari tidak dapat dilakukan secara normal.

Penyakit ini disebabkan oleh tiga jenis cacing filaria, yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori. Ketiga jenis cacing tersebut memiliki karakteristik habitat yang berbeda. Brugia timori umumnya ditemukan di wilayah pertanian seperti sawah dan ladang, sedangkan Wuchereria bancrofti lebih banyak dijumpai di daerah pantai atau dataran rendah. Untuk mendeteksi keberadaan cacing filaria di dalam tubuh manusia, pemeriksaan dilakukan dengan mengambil sampel darah dari ujung jari, biasanya pada malam hari. Hal ini karena pada malam hari microfilaria lebih aktif berada di pembuluh darah tepi, sehingga lebih mudah terdeteksi.

Cacing filaria mengalami beberapa tahap perkembangan, mulai dari microfilaria hingga menjadi cacing dewasa. Microfilaria merupakan stadium awal (larva tingkat 1 atau L1) yang beredar dalam darah dan berperan penting dalam penularan penyakit. Cacing ini kemudian berkembang hingga menjadi cacing dewasa (larva tingkat 5 atau L5) yang mampu berkembang biak dan menghasilkan microfilaria baru. Proses perkembangan cacing filaria melibatkan dua inang, yaitu manusia dan nyamuk.

Penularan filariasis terjadi melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi. Tidak semua jenis nyamuk dapat menularkan filariasis. Setiap jenis cacing filaria hanya dapat berkembang pada jenis nyamuk tertentu. Sebagai contoh, Brugia timori berkembang pada nyamuk Anopheles barbirostris yang banyak hidup di daerah persawahan, sedangkan Wuchereria bancrofti berkembang pada nyamuk Culex spp. Nyamuk memegang peranan penting dalam siklus penularan karena di dalam tubuh nyamuk, microfilaria berkembang menjadi larva infektif.

Ketika nyamuk menggigit penderita filariasis, microfilaria yang berada di dalam darah penderita akan terhisap dan masuk ke tubuh nyamuk. Di dalam tubuh nyamuk, microfilaria bergerak menuju otot perut dan berkembang dari larva tingkat 1 (L1) menjadi larva tingkat 3 (L3) dalam waktu sekitar 14 hari. Larva L3 ini bersifat infektif dan siap ditularkan ke manusia lain. Setelah mencapai stadium tersebut, larva akan berpindah ke bagian mulut nyamuk dan masuk ke tubuh manusia saat nyamuk kembali menggigit.

Setelah masuk ke dalam tubuh manusia, larva L3 bergerak menuju saluran getah bening dan berkembang menjadi cacing dewasa (L5). Cacing dewasa inilah yang kemudian menghasilkan microfilaria dalam jumlah besar. Microfilaria tersebut dapat menyumbat dan merusak saluran limfa, sehingga menimbulkan pembengkakan kronis pada bagian tubuh tertentu. Pada malam hari, microfilaria akan bermigrasi ke sistem peredaran darah, yang menjadi dasar pemeriksaan darah dilakukan pada malam hari.

Perlu dipahami bahwa penularan filariasis tidak terjadi dengan mudah. Diperlukan ratusan bahkan ribuan kali gigitan nyamuk terinfeksi untuk menyebabkan seseorang menderita penyakit kaki gajah. Masyarakat yang tinggal di daerah endemik umumnya memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik dibandingkan pendatang. Oleh karena itu, pendatang di daerah endemik dianjurkan untuk lebih waspada, salah satunya dengan menggunakan losion anti nyamuk dan menjaga kebersihan lingkungan.

Dalam upaya pengendalian filariasis, pengobatan massal menjadi strategi utama yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sejak tahun 1997, WHO menetapkan bahwa eliminasi filariasis dilakukan melalui pemberian obat secara massal kepada masyarakat di daerah endemik selama lima tahun berturut-turut, dengan frekuensi satu kali dalam setahun. Target WHO adalah mengendalikan dan mengeliminasi filariasis sebagai masalah kesehatan masyarakat.

Obat utama yang digunakan dalam program ini adalah Diethylcarbamazine (DEC). Dosis DEC diberikan berdasarkan berat badan, yaitu 6 mg per kilogram berat badan. Sebagai contoh, seseorang dengan berat badan 50 kg akan mendapatkan dosis total 300 mg. Pemberian obat biasanya tidak dilakukan sekaligus dalam satu hari, melainkan dibagi, misalnya sebagian pada hari pertama dan sisanya pada hari ketiga. DEC efektif membunuh microfilaria dan sebagian cacing dewasa, serta dapat menghambat kemampuan cacing dewasa untuk berkembang biak dalam jangka waktu tertentu.

Menurut pedoman WHO, seseorang dinyatakan layak mendapatkan pengobatan jika kadar microfilaria dalam darahnya melebihi satu persen. Pada kadar tersebut, penderita sudah berpotensi menularkan penyakit ke orang lain. Jika kadar microfilaria masih di bawah satu persen, risiko penularan dinilai masih rendah.

Namun, perlu diketahui bahwa pengobatan dengan DEC tidak diperuntukkan bagi semua orang. Ibu hamil, anak berusia di bawah dua tahun, penderita penyakit berat, serta penderita filariasis kronis dengan pembengkakan permanen tidak dianjurkan mengonsumsi obat ini. DEC termasuk obat dengan efek samping yang cukup tinggi. Pada penderita filariasis, efek samping biasanya lebih ringan karena obat bekerja langsung membunuh microfilaria. Sebaliknya, pada orang yang tidak terinfeksi, efek samping dapat berupa mual, muntah, gatal-gatal, hingga rasa mati sementara pada bagian tubuh tertentu. Efek obat umumnya mulai dirasakan beberapa hari setelah konsumsi.

Pemberian obat secara massal dilakukan sebagai langkah pencegahan penularan di masyarakat. Jika di suatu wilayah terdeteksi kasus filariasis, maka ratusan orang di sekitar wilayah tersebut dianjurkan untuk ikut minum obat. Langkah ini bertujuan memutus mata rantai penularan dan melindungi masyarakat yang masih sehat. Selama mengonsumsi obat, seseorang akan memiliki perlindungan terhadap infeksi filariasis meskipun digigit nyamuk yang mengandung microfilaria. Namun, jika pengobatan dihentikan, risiko terinfeksi kembali tetap ada.

Filariasis adalah penyakit yang dapat dicegah dan dikendalikan dengan kerja sama semua pihak. Peran masyarakat dalam mengikuti pengobatan massal, menjaga kebersihan lingkungan, dan mencegah gigitan nyamuk sangat penting. Dengan upaya yang konsisten dan berkelanjutan, diharapkan filariasis tidak lagi menjadi ancaman kecacatan bagi masyarakat.

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.
x