
PADANG — Hunian sementara (Huntara) mandiri Kepalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang, resmi diresmikan dan diserahkan kepada Pemerintah Kota Padang. Huntara yang diperuntukkan bagi warga terdampak banjir bandang ini menjadi solusi sementara bagi ratusan warga yang sebelumnya harus mengungsi di rumah ibadah, sekolah, atau menumpang di rumah kerabat. Peresmian berlangsung pada Kamis (5/2/26).

Sebanyak 100 unit Huntara disiapkan untuk menampung 100 kepala keluarga dengan jumlah lebih dari 400 jiwa. Hunian tersebut dibangun atas inisiatif Wakil Gubernur Sumatera Barat Vasko Ruseimy bersama Wakil Ketua DPRD Sumbar Evi Yandri Rajo Budiman, dengan dukungan berbagai pihak yang terlibat secara gotong royong.

Sebagai bentuk apresiasi, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menyerahkan 16 sertifikat penghargaan kepada pihak-pihak yang berkontribusi dalam pembangunan Huntara mandiri tersebut. Huntara dibangun di atas lahan milik Pak Choa dari suku Jambak, yang dengan sukarela mengizinkan lahannya digunakan tanpa batas waktu.

Evi Yandri Rajo Budiman yang juga bertindak sebagai Ketua Pelaksana pembangunan menjelaskan, proses pembangunan Huntara dimulai sejak 15 Desember dan rampung pada 31 Januari. Dalam waktu sekitar 45 hari, seluruh unit berhasil diselesaikan dan sebagian besar telah ditempati warga terdampak dari wilayah Lambung Bukit, Kepalo Koto, dan Cupak Tangah.

Menurut Evi, Huntara mandiri ini bukan sekadar bangunan kosong. Setiap unit telah dilengkapi dengan peralatan rumah tangga seperti kompor, tabung gas, kasur, serta perlengkapan memasak. Selain itu, tersedia fasilitas listrik dan jaringan internet Wi-Fi yang dapat digunakan secara gratis oleh penghuni.
Evi juga menyampaikan masih ada kebutuhan warga yang akan segera dipenuhi, salah satunya pembangunan tempat ibadah. Ia berharap fasilitas tersebut dapat segera digunakan, terutama menjelang bulan Ramadan, agar warga dapat beribadah dengan lebih nyaman.
Dalam sambutannya, Evi mengingatkan warga bahwa Huntara bersifat sementara. Ia mengajak masyarakat untuk tetap bersyukur dan bersabar sembari menunggu pembangunan hunian tetap. Huntara ini, menurutnya, dibangun atas dasar kepedulian dan empati terhadap warga yang kehilangan tempat tinggal akibat banjir bandang.
Evi turut mengenang momen evakuasi saat bencana terjadi. Ia menceritakan bagaimana warga, khususnya para ibu, harus dievakuasi di tengah hujan deras, bahkan saat rumah mereka runtuh. Pengalaman tersebut menjadi dorongan kuat baginya untuk terlibat langsung dalam pembangunan Huntara.
Selama proses pembangunan, Evi Yandri tidak hanya berperan sebagai penggagas dan penghubung bantuan, tetapi juga turun langsung ke lapangan. Ia ikut membantu pekerjaan fisik, mulai dari memaku hingga mengangkat material, demi memastikan Huntara selesai tepat waktu.
Wakil Gubernur Sumatera Barat Vasko Ruseimy menegaskan bahwa pembangunan Huntara mandiri ini merupakan terobosan di tengah keterbatasan anggaran. Selama ini, penanganan pascabencana lebih banyak berfokus pada pembangunan hunian tetap yang memerlukan waktu satu hingga dua tahun.
Vasko menjelaskan, kebutuhan mendesak warga akan tempat tinggal mendorong dirinya bersama Evi Yandri untuk mencari solusi cepat. Meski dana pemerintah terbatas, mereka berupaya menghimpun dukungan dari berbagai pihak agar Huntara bisa segera dibangun dan dimanfaatkan warga.
Selama 45 hari pengerjaan, berbagai upaya dilakukan agar pembangunan berjalan cepat. Selain penyediaan material, keterlibatan tenaga dari berbagai instansi dan komunitas menjadi kunci percepatan penyelesaian Huntara mandiri tersebut.
Vasko menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu. Ia juga menegaskan komitmennya bersama Evi Yandri untuk mendorong percepatan pembangunan hunian tetap bagi warga penghuni Huntara agar mereka dapat segera memiliki tempat tinggal permanen.
Wali Kota Padang Fadly Amran yang turut hadir dalam peresmian menyampaikan apresiasi atas inisiatif pembangunan Huntara mandiri tersebut. Ia menyebut Huntara Kepalo Koto sebagai salah satu hunian sementara yang telah ditempati warga terdampak bencana hidrometeorologi di Kota Padang.
Pemko Padang, lanjut Fadly, akan mengawal data warga penghuni Huntara agar dapat diusulkan dan diprioritaskan untuk mendapatkan hunian tetap. Pemerintah kota juga siap berkolaborasi dalam penanganan lanjutan pascabencana.
Perwakilan ninik mamak dan Ketua KAN Pauh V mewakili warga menyampaikan terima kasih atas kepedulian semua pihak. Ia mengajak warga untuk menjaga dan merawat Huntara, baik dari sisi kebersihan, kenyamanan, maupun keamanan, meskipun sifatnya sementara.
Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam pembangunan Huntara mandiri ini antara lain Brimob Polda Sumbar, Batalyon 896, Batalyon 133, PMI Sumbar, PLN Sumbar, Semen Padang, Gekrafs Sumbar, SMKN 5, Tagana Sumbar, Karang Taruna Sumbar, AKLI Sumbar, MKI Sumbar, Badan Geologi, Pemuda Panca Marga, Masyarakat Energi Terbarukan, Tagana Mentawai, serta Tagana Kalimantan Selatan.